Reriak Jiwa

Info Buku
Penulis: Terbit: 27 February 2016 Jumlah halaman: Dibaca: kali Rating Tulisen: Rating pembaca: Baca Bukunya
SINOPSIS

Judul tulisan pengantar antologi puisi Reriak Jiwa: Hanya 42 Sajak Sederhana ini berawal dari sajak Sapardi Djoko Damono yang berjudul “Yang Fana Adalah Kita, Waktu Abadi”. Dalam hal ini, Sapardi menyebutkan bahwa keabadian kita itu ditunjukkan oleh kita yang terus-menerus bergerak berproses takpernah henti memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga sampai suatu hari nanti. Jadi, yang abadi itu adalah ketika seseorang melakukan sesuatu sampai tidak pernah berhitung tentang waktu yang sebenarnya sangat membatasinya; dirinya yang berusaha tanpa kenal waktu seolah akan terus ada, langgeng dalam berusaha. Baris sajak ini adalah suatu metafor yang menggambarkan usaha terus-menerus, seolah takada batas apapun sehingga disebutnya kita sebagai yang abadi itu.

Atas dasar baris puisi Sapardi di atas, puisi-puisi M. Irfan Hidayatullah menjadi kebalikannya: waktu adalah abadi dan kita selalu fana. Waktu menjadi petanda yang menunjukkan berbagai hal bagi manusia. Waktu adalah batas yang membuat manusia tidak bisa semena-mena melakukan sesuatu, waktu adalah batas yang dijadikan petanda untuk target-target tertentu bagi segala rencana. Apapun yang dilakukan atau yang akan dilakukan selalu disandingkan atau dipertimbangkan dengan mengingat waktu. Segala peristiwa adalah bagian dari waktu yang tidak bisa dipisahkan. Setiap peristiwa adalah detik-detik yang merayap bersama waktu. Jadi, waktu adalah semacam kerangka yang luas dan panjang takterhingga lantas peristiwa-peristiwa itu mengisi ruang-ruang tersebut yang berjalan merayap memenuhi celah, kelokan, lapangan, ruang yang dimiliki oleh waktu. Waktu bagi penyair menjadi semacam kekuasaan yang perkasa dan kita/aku/siapapun selalu tidak berdaya: Pada jarum panjang jam dinding itu tergantung mahluk kecil mirip aku yang terseretseret selalu.