Pondok Sabina

Info Buku
Penulis: Terbit: 10 January 2016 Jumlah halaman: Dibaca: kali Rating Tulisen: Rating pembaca: Baca Bukunya
SINOPSIS

Seorang gadis duduk di serambi depan sebuah rumah mungil yang nyaman. Rumah tersebut berpagar perdu dengan pepohonan merindangi halamannya yang juga mungil. Rumput hijau dan bunga aneka warna mempercantik taman di muka rumah tersebut. Sebuah jalan setapak ke arah beranda membuat suasana halaman rumah itu menjadi tampak kuno dan sederhana.

Di depan rumah berdinding ungu pastel tersebut, sang gadis duduk dengan nyaman sambil menikmati secangkir teh hangat. Gadis itu berkulit pucat dan rambut hitam panjangnya tergerai ditiup angin. Bola matanya juga berwarna hitam, namun sesekali – secara misterius – berkilat keperakan. Sore tampak begitu cerah dan tenang di tempat tersebut.

Beberapa meter dari rumah itu, seorang pria berjalan gontai menembus kerumunan orang yang lalu lalang di trotoar kota. Langkahnya lesu, seakan tanpa tenaga. Ia berjalan tanpa arah dengan pakaian kumal dan rambut berantakan. Beberapa orang yang berpapasan dengannya berbisik-bisik sambil menatapnya seakan merasa terganggu. Tapi pria itu tidak peduli dan terus berjalan.

Tak lama kemudian, pria itu sampai di depan rumah mungil milik sang gadis tadi. Dari balik pohon, tiba-tiba tatapannya terhenti pada seorang gadis yang sedang menghirup aroma cangkir yang mengepul. Meski kulitnya sangat pucat, gadis itu tampak begitu cantik dengan gaun panjang berwarna darah yang menutupi seluruh kakinya. Rambutnya yang halus dan panjang menarik pandangan pria itu hingga tak sanggup berkedip.

“Ada yang bisa kubantu?” tiba-tiba sebuah suara mengagetkan pria itu. Ternyata sang gadis sudah menatapnya dengan senyuman ramah menghiasi wajahnya.

Pria itupun keluar dari balik pohon dan balas menatap gadis itu malu-malu.

“Maaf kalau aku mengganggu waktu minum tehmu. Aku hanya seorang laki-laki yang tersesat.” jawab pria tadi.

“Aku akan sangat senang menerimamu untuk minum teh bersamaku sambil bertukar cerita.”

Pria itu berpikir sejenak. Ia merasa sungkan mendatangi rumah seorang gadis yang baru pertama kali ditemuinya. Tapi sudah berhari-hari ia berjalan tanpa makanan dan minuman yang layak. Bahkan tanpa tempat tinggal sama sekali. Karena itu ia memutuskan untuk memenuhi undangan gadis itu dan berjalan melalui setapak kecil menuju beranda. Sang gadis pun mulai menyiapkan secangkir teh lagi untuk tamu asingnya.