Entah

Info Buku
Penulis: Terbit: 1 January 2016 Jumlah halaman: Dibaca: kali Rating Tulisen: Rating pembaca: Baca Bukunya
SINOPSIS

“udaah.. kka.. udaah.. sakiit” rintih Sivia saat Cakka kembali menampar pipinya. Tetapi Cakka tetap tidak memperdulikan rintihan Sivia.

Cakka dan Sivia, mereka adalah sepasang kekasih, Sivia adalah seorang gadis berparas cantik dan baik hati, lain halnya dengan Cakka kekasihnya. Meskipun Cakka memang bisa disebut tampan, tapi sifatnya sangat buruk, tidak jarang Sivia menjadi tempat Cakka untuk meluapkan seluruh amarahnya. Meskipun begitu, sivia tetap sayang pada Cakka, bahkan sangat menyayanginya.

***

-SIVIA –

Di sekolah….

“Via, lo kenapa? Pipi lo kok merah gitu?” . “pasti gara-gara Cakka lagi ya?” . “kenapa sih lo masih pertahanin dia? Dia kan udah sering nyakitin lo gini” cerocos Shilla, Ify dan Agni secara bergantian. Aku membalasnya dengan sebuah senyuman. Senyum kepedihan.

“Via, apa lo bener-bener masih mau pertahanin hubungan lo sama Cakka? Dia tuh psikopat Vi!” Tanya Shilla padaku. Apa kalian tau, pertanyaan itu bukan hanya aku dengar dari mulut seorang Shilla saja, tetapi sudah banyak orang yang berbicara persis seperti apa yang Shilla katakan. Mereka tidak mengerti perasaanku, aku yang begitu menyayangi Cakka dan tak pernah perduli dengan semua pendapat orang terhadapnya, walaupun.. itu semua tidak salah.

“gue tau apa yang terbaik buat gue Shil, gue sayang Cakka apa adanya, ngga perduli dia itu psikopat atau bukan, gue tetep sayang dia” ujarku menjawab pertanyaan Shilla tadi. Shilla terdiam.
“kenapa lo ngga balikan lagi aja Vi sama ka Alvin? Gue rasa ka Alvin masih sayang sama lo” ucap Ify yang secara tidak langsung membenarkan ucapan Shilla tadi. Aku hanya menggelengkan kepalaku lalu menghela nafas panjang.

“Via, sini ikut aku!!” perintah Cakka yang tiba-tiba datang ke kelasku dan langsung mencengkram erat tangan kiriku, lalu menarikku menuju kamar mandi usang yang sudah tidak dipakai lagi (kamar mandinya berada di belakang sekolah). Aku meringis kesakitan.. ‘PLAKKK’. Sebuah tamparan Cakka kembali mendarat di pipi mulusku, aku bingung, sebenarnya apa salahku.. aku memegang pipiku yang barusan sempat terkena tamparan Cakka. Aku takut….

“Via, apa kamu tau.. apa salah kamu?” Tanya Cakka padaku. Aku hanya menggeleng lemah.. ‘PLAKKK’ .. kembali sebuah tamparan Cakka mengenai pipiku.

“semalem.. semalem aku sms kamu, tapi kenapa kamu ngga bales sms aku ha? Kamu males? Apa kamu udah bosen pacaran sama aku?” Tanya Cakka. Aku menangis, menangis menahan perih karena tamparan Cakka tadi yang memang sudah tak asing lagi bagiku, sejak 3 bulan lalu kami berpacaran.

“bukan gitu Kka, semalem aku ketiduran jadi aku ngga tau kalau kamu sms aku, makanya aku ngga bales sms kamu” jawabku dengan suara pelan. Ya… memang, kemarin setelah aku pulang dari rumah Cakka, aku begitu lelah.. hingga akhirnya aku tertidur di atas ranjangku sampai esok hari.
“alah bohong! Bilang aja kamu males kan? Kamu udah ngga suka lagi kalo aku sms-smsin kamu, apalagi jadi pacar kamu. Bener kan? Jawab Vi… jawab” Cakka kembali mengulang pertanyaannya tadi sambil mencengkram kuat kedua pundakku dan itu… itu terasa begitu sakit..

“ngga Kka, ngga. Kamu salah, semua yang kamu kira itu ngga bener.. aku masih sayang sama kamu, aku masih perduli sama kamu.. dan aku juga masih pengen kamu tetep jadi pacar aku” kata ku sambil menangis. Lalu Cakka memelukku sambil mengusap-usap lembut rambutku. Aku memang selalu di buat bingung olehnya.. Sering tiba-tiba dia marah padaku, lalu menamparku bahkan memukulku dan tidak jarang pula seusai itu dia kembali baik padaku, baik sekali..

Aku kembali ke kelas…
“Via, lo barusan diapain sama Cakka?” Tanya Shilla.
“kok pipi lo sekarang yang kanan jadi ikut memar gitu juga sih?” Tanya Ify yang sedari tadi memperhatikan kedua pipiku.
“ih iyaa bener pipi lo jadi memar dua-duanya.. mata lo juga sembab.. ayoo.. lo cerita, abis diapain lo sama Cakka?” Tanya Agni melengkapi pertanyaan Shilla dan Ify yang lebih dulu di lontarkan padaku.

“ngga kok, dia ngga ngapa-ngapain gue, dia cuma tanya kenapa gue ngga bales sms dia” Jawabku.
“bohong lo Vi, jujur donk sama kita-kita, apa lo ngga percaya sama kita?” balas Agni. Ify dan Shilla hanya menganggukkan kepala mereka saja.

“beneran kok, Cuma itu” ucapku lagi sedikit berbohong kepada ketiga sahabatku ini. Aku hanya tidak ingin mereka terus menghawatirkan keadaanku.

“yaudah kalo lo belum mau cerita sama kita.. ngga papa kok, tapi kalo misalnya lo ada masalah, kita bertiga siap kok jadi tempat curhat lo Vi” kata Ify yang sepertinya tidak ingin memaksaku untuk bercerita lebih jauh lagi.

***

‘selamat datang cinta dihatiku….’ BB ku berdering, aku melihat layar BB ku, ternyata Ify yang meneleponku.

“Halo Ify, kenapa?”

“ngga papa ko Vi, gue Cuma mau ngajakin lo jalan ke mall.. mau ngga?”

“hm.. oke, kapan?”

“jam 5, gue jemput lo dirumah.. dandan yang cantik ya Via sayang”

“iya.. Ify sayang”

Klik.. aku putuskan sambungan teleponku dengan Ify, aku lirik jam dinding di kamarku.. sekarang pukul 16:10, aku lalu bangkit dari tempat tidurku dan beranjak pergi ke kamar mandi, setelah sekitar 25 menit aku mandi, aku berdandan.. aku memilih untuk memakai setelan kaos putih dan celana jeans panjang saja, kupikir itu lebih nyaman.. lalu ku tata rambutku, sebuah jepit berwarna pink terjepit rapih di rambutku. “oke siap”. Tidak lama setelah itu… ‘TIN.. TIN’ sebuah mobil Honda jazz putih berhenti di depan rumahku, tak salah lagi.. itu Ify. Setelah aku berpamitan dengan ibuku yang ada di rumah, lalu aku pergi meninggalkan rumah dan menaiki mobil Ify.

“udah Vi? Ngga ada yang ketinggalan?” Tanya Ify memastikan.

“ngga ada ko, semua udah lengkap” jawabku sambil tersenyum pada Ify.

Ify lalu menggas mobilnya.. setelah beberapa jam aku dan Ify jalan-jalan, saatnya aku dan Ify untuk pulang.

“Thanks ya Fy, udah nganterin gue”

“oke Vi, me too” Ify bersama mobilnya lalu pergi dari hadapanku. Setelah mobil Ify sudah tak terlihat lagi, aku berencana untuk masuk dan segera tidur.. tapi rencanaku itu gagal.. sebab saat aku membalikkan badanku, Cakka sudah berada di hadapanku dan ‘PLAAAKK’.. ya, itu tamparan Cakka yang kembali dia tujukan kepadaku. “enak ya kamu jalan-jalan sama Ify sedangkan aku dari tadi nungguin kamu di depan rumah kamu, kenapa aku telepon ngga di angkat? Benerkan kata aku kalo kamu emang udah ngga mau berhubungan lagi sama aku, benerkan VI?” ucap Cakka emosi. Malam itu pertengkaran kami sudah tidak dapat dihindari lagi. Seperti sebelumnya, Cakka selalu bersikeras dengan pendapatnya dan akhirnya semua itu hilang ketika aku benar-benar sudah menangis.

***

Hari ini hari minggu, rasanya hari ini aku tidak memiliki janji dengan siapapun, aku berniat untuk online dan membuka akun twitter ku.

‘@rawrercoaster : hari minggu gini enaknya ngapain ya?’ aku mengupdate status twitter ku, lalu aku check mention ku, ternyata ada ka Alvin yang mereply tweetku tadi.

‘@9alvinosztaCR7 : main yu? Mau ngga? RT @rawrercoaster : hari minggu gini enaknya ngapain ya?’

‘@rawrercoaster : ehm.. ngga usah deh ka, makasih RT @9alvinosztaCR7 : main yu? Mau ngga? RT @rawrercoaster : hari minggu gini enaknya ngapain ya?’

‘@9alvinosztaCR7 : yaaah.. kenapa? Padahal hari ini cerah banget RT @rawrercoaster : ehm.. ngga usah deh ka, makasih RT @9alvinosztaCR7 : main yu? Mau ngga? RT @rawrercoaster : hari minggu gini enaknya ngapain ya?’

‘@rawrercoaster : aku mau ngerjain tugas dari pa Duta, banyak banget nih RT @9alvinosztaCR7 : yaaah.. kenapa? Padahal hari ini cerah banget RT @rawrercoaster : ehm.. ngga usah deh ka, makasih RT @9alvinosztaCR7 : main yu? Mau ngga? RT @rawrercoaster : hari minggu gini enaknya ngapain ya?’ balasku lagi.. aku berbohong pada ka Alvin, padahal hari minggu ini tidak ada tugas yang diberikan oleh pa Duta atau pun guru lainnya. Aku hanya tidak ingin memicu kemarahan Cakka, karena Cakka memang tidak menyukai ka Alvin itu disebabkan karena ka Alvin adalah mantan pacarku.. yang menurut orang siih.. dia (ka Alvin) masih menyayangiku.. tapi.. entahlah…

‘@9alvinosztaCR7 : oh.. yaudah deh.. lain kali aja ya RT @rawrercoaster : ehm.. ngga usah deh ka, makasih RT @9alvinosztaCR7’ . Aku lalu menutup aku twitter ku dan kembali berbaring di kasurku.

***

‘ting nong… ting nong..’
“aduh siapa sih yang dateng.. lagi pewe juga.. hhh” gumamku sewot. ‘KLIK’ , “eh Cakka, tumben dateng kerumah aku ngga sms dulu” ucapku gembira, karena aku pikir setelah pertengkaran kami kemarin malam, Cakka akan menjauh dariku. Tapi ini, tidak.. dia malah datang kerumahku yang pastinya untuk menemui ku.

“alah… buat apa juga aku sms kamu, paling-paling entar ngga di bales” ucap Cakka yang sepertinya masih kesal kepadaku. Aku menunduk. “ayo ikut aku..” ucap cakka lagi sambil menarik lenganku, aku hanya menurut saja.

“kamu mau apain aku Kka?” tanyaku bingung setelah Cakka berhenti menarikku di sebuah tempat gelap, sempit dan berdebu.. itu gudang.. ya, aku yakin aku sekarang sedang berada di gudang.

“duduk” kata Cakka, aku menurutinya. “diem dan jangan berontak” kata Cakka lagi.. aku hanya diam dan mengikuti semua perintahnya. Cakka lalu pergi dan tidak lama setelah itu Cakka kembali dengan seutas tali yang dia gengam. Apa yang akan Cakka lalukan padaku, aku mulai takut. Ternyata benar saja, Cakka mengikatku di atas sebuah bangku yang kini aku duduki.

“kamu mau apain aku Kka? Apa lagi salah aku ke kamu?” ujarku sambil merintih kesakitan karena tali yang Cakka ikatkan padaku yang memang sangat kuat.

“ngga nyadar kamu, apa salah kamu?” aku menggeleng. ‘PLAAAKK’ “bodoh” ujarnya lagi. Aku menangis, aku kini benar-benar di buat bingung oleh Cakka, apa sebenarnya salahku ini?..

“jujur, kamu masih berhubungan kan sama mantan kamu ALVIN?” bentak Cakka.

“ngga ka, engga” jawabku masih dengan isak tangis.

“BOHONG!! Apa maksud kamu ngeladenin dia di twitter hah? Emang aku ngga tau apa? Kamu kira aku bego??”. Ya ampun.. aku lupa, tadi aku memang sempat beberapa kali membalas mention ka Alvin dan aku ngga tau kalau hasilnya akan membuat Cakka sangat marah. Aku menunduk, aku merasa bersalah dengan apa yang aku lakukan tadi.

“dari pada kamu terus-terusan bikin aku sakit hati, mending kamu mati aja” ucap Cakka sambil menyodorkan sebilah pisau tepat di depan mukaku. Aku yang semula menunduk langsung menegakkan kepalaku.

“jangan Kka, jangan bunuh aku, pliss aku mohon sama kamu.. setelah ini aku janji akan benar-benar manjauhi ka Alvin demi kamu” aku memohon sambil menangis.

“ngga Vi, aku udah ngga percaya sama kamu dan sekarang mending aku bunuh kamu”
Aku takut… takuut banget.. pisau yang di pegang Cakka semakin lama semakin mendekat ke wajah ku.. semakin dekat.. dan.. ‘BRAKKK’ seseorang datang dan mendobrak pintu gudang, aku cermati dia.. siapa itu? Tidak salah lagi, itu ka Alvin, dia datang untuk menolongku.. syukurlah..

“ngapain lo dateng kesini? Mau jadi sok pahlawan lo?” ucap Cakka sinis.

“gue cuma ngga suka lo sakitin Via, balikin dia ke gue.. beraninya lo cuma sama cewe doank, banci lo!!” balas ka Alvin.

“lo berani sama gue? Ayo lawan gue” tantang Cakka pada ka Alvin.

“oke”

Adu jotos (bahasanye) antara Cakka dan ka Alvin pun sudah tidak dapat terhidari lagi. Meskipun sejak tadi aku sudah berteriak-teriak pada ka Alvin untuk pergi dan tidak meladeni Cakka, tapi itu sama sekali tak di hiraukan olehnya. Sesekali Cakka jatuh tersungkur dan meringis kesakitan sebab ka Alvin berhasil menendang perutnya. Cakka yang tidak terima langsung bangun dan mengambil pisaunya yang jatuh ke tanah.. tanpa basa-basi Cakka langsung menusukkan pisaunya di perut ka Alvin. “KAAKK ALVIIIIIIIIIIIIN” teriakku, aku menangis sejadi-jadinya. Aku begitu merasa bersalah pada ka Alvin, dia yang awalnya berniat untuk menolongku.. tetapi hasilnya dia malah harus tertusuk pisau Cakka. Itu semua karenaku.. tidak sedikit darah yang mengalir dari perut ka Alvin, berkali-kali ka Alvin meringis untuk menahan sakitnya.. sampai pada akhinya pertahanannya sudah goyah, dia sudah tidak lagi bisa menahan sakitnya itu.

“Via, kakak pikir.. sekarang saatnya kakak harus pergi ninggalin kamu.. kakak udah ngga kuat lagi, jaga diri kamu baik-baik.. kakak sayang sama kamu”.. setelah mengucapkan semua itu, ka Alvin menutup matanya.. untuk selamanya.. ya.. ka Alvin telah kembali menghadapnya.. selamanya aku takkan bisa lagi bertemu ka Alvin. Aku kembali menangis, rasanya pusing sekali.. tapi aku mencoba untuk tetap bertahan.. tiba-tiba Cakka mendudukkan dirinya di atas tanah, lalu dia meremas-remas kepalanya dengan kuat, dan menangis.. mungkin dia sudah sadar dan menyesali apa yang telah dilakukannya barusan. Tapi itu sudah terlambat. Sekawanan polisi datang menolongku dan langsung memborgol kedua tangan Cakka, Cakka hanya bisa pasrah. Mayat ka Alvin pun sudah di evakuasi. Aku bertanya kepada seorang polisi, mengapa dia bisa tau kami ada disini.. ternyata ka Alvin lah yang menelepon polisi untuk segera datang, karena saat dia melewati rumahku dia curiga melihat ku dan Cakka yang sedang ribut dan mengikutiku sampai di gudang ini.

Setelah kejadian itu aku benar-benar ngedroop.. aku memutuskan untuk tidak bersekolah dulu sementara waktu dan memutuskan untuk mengurung diriku di kamar.. aku depresi berat.. sampai-sampai pada saat pemakaman ka Alvin di berlangsungkan pun aku tidak hadir untuk melihatnya terakhir kalinya.. karna aku masih tidak sanggup menerima semua ini.

***
Sudah 8 bulan lamanya Cakka mendekam di penjara. Sedikit demi sedikit aku mulai bisa menerima keadaan ini. Hari ini aku berniat untuk menjenguk Cakka di penjara.. aku lihat Cakka tampak sudah berubah.

“Vi, makasih ya.. kamu udah mau nyempetin buat jenguk aku disini” kata Cakka sembari tersenyum manis.

“iya” jawabku singkat.

“Vi, aku mau minta maaf banget sama kamu, tentang perlakuan kasar aku selama ini ke kamu” terlihat dari wajahnya, dia memang benar-benar menyesali perbuatannya itu.

“iya.. ngga papa kok, aku juga udah ngelupain itu semua” ujarku. Cakka lalu berterimakasih dan memelukku. Aku dan Cakka kini memang sudah bukan sebagai sepasang kekasih lagi.. sejak kejadian waktu itu, aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Cakka. Meskipun sesungguhnya aku tidak rela untuk melepasnya, karena aku masih sangat sayang padanya.

***

Kini, aku menjalani hidupku kembali dengan apa adanya.. bersama Shilla, Ify dan Agni sahabatku juga kedua orang tuaku. Tanpa ka Alvin dan Cakka. Ka Alvin kini sudah tenang berada di surga, aku biarkan dia tenang dengan tidak lagi menangisi kepergiannya, bahkan aku sudah beberapa kali datang ke makam ka Alvin hanya untuk sekedar menanyakan kabar dan bercerita padanya.. ya.. aku akui, aku meridukan sosok ka Alvin.. Hingga kini pun Cakka masih mendekam di tahanan, karena ulahnya dulu, pengadilan telah menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara padanya dan sepertinya itu sudah cukup membuatnya menyesal dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi..
Soal siapa yang nanti akan manjadi kekasihku, aku belum tau siapa dia.. mungkin aku akan mencari pelabuhan hatiku yang baru nanti.. yang pasti bukan ka Alvin atau pun Cakka..

***

Di sebuah taman..

‘byurrr’.. “eh, sorii.. aku ngga sengaja, baju kamu jadi kotor deh.. maaf ya..” ucap seseorang yang barusan sepertinya memang tidak sengaja menumpahkan minumannya di bajuku.

“oke.. gapapa ko.. nyantai aja” balasku. “aku Rio, kamu?” ucapnya memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangan kanannya. “Via” ucapku sambil membalas uluran tangannya..

‘manis, mungkin dialah pelabuhan hatiku yang baru’ batinku sambil tersenyum.

TAMAT