Menu

Oleh: Intan Savitri

Om Freud pernah berkata “Hidup itu Gak Mudah!”
Saya mengiyakan, sebab hidup menyediakan tempat untuk senantiasa berkonflik setiap saat dan setiap dari kita mempertahankan diri untuk tetap menjadi penyintas dalam setiap konflik yang kita hadapi. Jadi, ketidakmudahan hidup memang harus kita hadapi, bertahan, dan melanjutkan hidup dengan kesiapan menghadapi permasalahan demiki permasalahan, sebab begitulah kehidupan.
Apa itu mekanisme pertahanan diri? Freud menjelaskannya dengan mekanisme psikoanalisis, psiko yang melakukan analisa, antara Id- Ego-Super-Ego. Ia meletakkan “Aku” atau The Ego tepat berada di tengah-tengah antara kekuatan Super Ego berupa realitas, norma sosial, serta dorongan dari dalam diri The Id, berupa keinginan/hasrat (syahwat) yang berasal dari hal-hal yang bersifat biologis. Maka Ego akan memutuskan sesuatu yang secara subyektif, yang paling baik untuk kita.

Seperti ketika kita berada diantara makanan yang berlimpah saat lebaran kemarin, maka “Ego” kita berada di tengah-tengah antara dorongan (biologis) lapar (baik mata maupun perut) yaitu “The Id” dan kekuatan “Super Ego”, berupa pandangan orang-orang (society) yang mungkin terus-menerus melihat perut kita yang makin menonjol. Maka “ The Ego” akan menjadi penengah, dan memutuskan untuk : “Tetap makan dengan porsi sedikit” atau “Setelah makan ini toh saya akan puasa syawal” atau “Makan gak papa, nanti kan saya olahraga lagi, untuk bakar kalori”
Sehari-hari kita menghadapi konflik-konflik seperti ini, dan mekanisme pertahanan diri kita berproses seperti yang tadi saya contohkan. Kata Om Freud sih, defence mechanism ada yang primitive ada yang mature.
Mekanisme pertahanan diri yang primitive diantaranya adalah:
1. Denial : Mengingkari fakta/realita kehidupan. Dengan cara, menyangkal. Misalnya kita memiliki masalah dengan kepercayaan diri, alih-alih mengakuinya, kita mengatakan bahwa kita tidak punya masalah dengan itu. Lalu melakukan hal-hal yang tidak menyelesaikan masalah kita, dengan minum-minuman keras, merokok dll.
2. Regression: Mengalami kemunduran dalam tahap perkembangan mental seperti, bertingkah laku seperti anak kecil. Misalnya seseorang yang sebenarnya mengalami problem ketakutan, kemarahan, atau dorongan seks yang impulsive mungkin saja mengembangkan mekanisme pertahanan diri dengan cara: cemburu berlebihan (menjadi pencuriga), mengalami kelekatan yang sangat dengan pasangan ( kirim texting dan ingin segera dibalas, kalau tidak dibalas marah dst).
3. Acting Out: Mengekspresikan emosi dengan cara yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Misalnya, seseorang yang sangat marah, alih-alih mengatakan bahwa saya marah pada Anda, karena Anda “bla-bla-bla” dengan penjelasan yang masuk akal, tetapi justru langsung memaki-maki, memukul, atau menangis tanpa bisa menjelaskan mengapa menangis.
4. Dissosiation: Person yang mengalami keterpecahan waktu/orang. Alih-alih mengembangkan representasi diri (self) pada waktu yang sama, ia mengalami disossiasi, terpecah. Jika berat, dan berulang, mekanisme ini akan berkembanga menjadi gangguan disossiatif, salah satu gangguan kepribadian. Bisanya dialami oleh mereka-mereka yang mengalami kekerasan berat pada masa kecil.
5. Compartmentalization: Mekanisme ini , lebih rendah tingkat gangguannya dibanding dissosiasi, person yang mengalami ini umumnya masih dalam kesadaran dan mengetahui bahwa dirinya mempercayai dua set nilai-nilai yang mungkin saling bertentangan, tetapi tidak menyadari disonansi kognitifnya. Misalnya seseorang yang terkenal jujur (memiliki nilai-nilai kejujuran) sekaligus melakukan kecurangan (korupsi, tidak bayar pajak, selingkuh dll) dan melakukan nilai-nilai yang tidak sejalan (saling bertentangan) itu tanpa menyadari ketidak-nyamanan yang ditimbulkannya.
6. Projection: Individu yang mengatribusi kegagalan dirinya kepada orang lain. Misalnya, seorang istri/suami yang mengatakan bahwa istri/suaminya tidak mau mendengarkan, padahal sebenarnya dirinyalah yang tidak mau mendengarkan, menyalahkan adalah reaksi berikutnya dan mendorong pada konflik. Umumnya disebabkan karena kurang memiliki ketrampilan untuk refleksi diri (melihat diri sendiri).
7. Reaction Formation: Individu yang mengubah reaksi yang sebenarnya dirasakannya menjadi reaksi sebaliknya. Misal seseorang yang tidak nyaman, marah dan kecewa dengan bos-nya, suaminya, istrinya, karena tidak mampu mengekspresikan ketidaknyamanannya, kemarahannya dan kekecewaannya secara proporsioanl mengubah reaksinya menjadi reaksi sebaliknya: menjadi sangat baik, kepada orang tersebut, sementara ia terus menerus menyembunyikan ketidaknyamanan, kemarahan dan kekecewaannya.
Jadi, apakah kita masih melakukan hal-hal dari tujuh hal tersebut? Cek ya!
Bagaimana dengan mekanisme pertahanan diri yang lebih adaptif? Tunggu tulisan selanjutnya ya!

By: admin

Kategori artikel: Kata Penulis
Kutipan
In porta enim non dolor posuere ut rhoncus leo tincidunt. Cras eget hendrerit est. Aliquam laoreet sodales egestas. Proin neque mauris, semper non sagittis eu, faucibus hendrerit est.
Menu style
Color style