Menu

Membahas mengenai isu kemiskinan di Indonesia selalu menjadi materi yang menarik untuk dibahas. Berdasarkan Badan Pusat Statistik pada bulan Maret 2015, penduduk miskin di Indonesia mencapai 28,59 juta orang atau sekitar 11,22 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Bila dibandingkan dengan kondisi pada September 2014 terdapat kenaikan 0,86 persen yaitu sebanyak 27,73 juta penduduk atau 10,96 persen.

Kemiskinan menurut Suparlan (1994), dinyatakan sebagai suatu keadaan kekurangan harta atau benda berharga yang diderita oleh seseorang atau sekelompok orang. Akibat dari kekurangan harta atau benda tersebut maka seseorang atau sekelompok orang itu merasa kurang mampu membiayai kebutuhan-kebutuhan hidupnya sebagaimana layaknya. Kekurangan mampuan tersebut mungkin hanya pada tingkat kebutuhan budaya, atau kebutuhan sosial atau bahkan pada tingkat kebutuan mendasar seperti makan-minum, berpakaian dan bertempat tinggal.

Sedangkan indikator kemiskinan yang digunakan untuk mengukur angka kemiskinan di Indonesia menggunakan indikator yang terdiri atas kemampuan penduduk dalam memenuhi kebutuhan pokoknya. Kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, tempat tinggal, pendidikan dan kesehatan. Maka dari hal tersebut, ketika seseorang dapat dikatakan miskin ketika tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Kemiskinan seolah menjadi sebuah lingkaran setan, seumpama seseorang memiliki pendapatan kecil, sehingga hanya memenuhi kebutuhan dasar semampunya bahkan kekurangan pangan, maupun kebutuhan papan sehingga rentan terhadap kesehatan, tidak mampu membekali pendidikan tinggi pada anaknya, juga menyebabkan produktivitas yang rendah dan nilai jual tenaga serta pendapatan yang rendah. Berarti disini kemiskinan bisa dikatakan sebagai penyebab sekaligus dampak.

Penyebab kemiskinan yang dikemukanan oleh Bradshaw (2006) dikelompokkan menjadi dua yaitu faktor kultur dan faktor struktural. Penyebab kemiskinan secara kultural dapat dikenali dari sifat individu, keluarga, dan lingkungan. Sifat individu yang lemah seperti perasaan rendah diri, ketergantungan yang tinggi, tidak bertanggung jawab atas diri sendiri, kurang berusaha, tidak bermoral, kemalasan, dan perasaan tidak berharga. Hal-hal tersebut menjadi tanda dari kemiskinan seseorang. Selain itu budaya keluarga yang kurang perhatian, pernikahan yang terlalu dini, tingginya tingkat perceraian serta faktor lingkungan fisik yang kumuh, juga mengidikasikan pada kemiskinan.

Penyebab kemiskinan yang lain yaitu faktor struktural seperti diskriminasi baik sosial, politik, maupun ekonomi, serta kesenjangan geografis. Faktor struktural inilah yang menimbulkan budaya kemiskinan. Kemiskinan yang terjadi di Indonesia terjadi akibat adanya budaya kemiskinan yang seolah dipellihara oleh masyarakat itu sendiri baik di kota maupun di desa.

Oscar Lewis mendefinisikan kemiskinan budaya sebagai kemiskinan yang muncul sebagai akibat adanya nilai-nilai atau kebudayaan yang dianut oleh orang-orang miskin, seperti malas, mudah menyerah pada nasib, kurang memiliki etos kerja dan sebagainya. Budaya kurangnya memiliki etos kerja tersebut tercermin dari sikap yang lebih senang mengambil jalur praktis dan tidak mau bekerja keras. Salah satu contoh yang sering saya lihat, disekitaran trotoar-trotoar Jakarta, pengemis anak-anak yang dikelola sendiri oleh orang tuanya. Sang anak sengaja ditinggal di trotoar jalan sambil memegang mangkok untuk menampung uang, sedangkan orang tuanya duduk sembari memperhatikan dikejauhan.

Padahal dalam usaha mengurangi angka kemiskinan, pemerintah sudah merancang berbagai program dan strategi dalam pengentasan kemiskinan tersebut. Namun nampaknya Indonesia masih membutuhkan program pengentaskan kemiskinan dimana bukan hanya melihat menurunya angka kemiskinan namun juga melihat bagaimana penduduk miskin tidak kembali miskin lagi.

By: martanofi

Kategori artikel: Kabar Tulisen
Kutipan
In porta enim non dolor posuere ut rhoncus leo tincidunt. Cras eget hendrerit est. Aliquam laoreet sodales egestas. Proin neque mauris, semper non sagittis eu, faucibus hendrerit est.
Menu style
Color style