Menu

-Sebuah Ulasan Pada Dua Hasil Penelitian-

PENDAHULUAN

Orang dewasa khususnya orang tua senantiasa terpesona melihat perkembangan bahasa yang diperlihatkan oleh anak-anak. Sering kali orang-tua-orang-tua muda, begitu takjub dengan perkembangan bahasa anak-anak mereka, sambil bertanya-tanya bagaimana sebenarnya proses pemerolehan bahasa anak-anak tersebut? Bagaimana bayi pada usia tertentu akan memulai ntuk memanggil orang tuanya dengan panggilan mama atau papa, atau baba, pipi dan panggilan lainnya. Apakah sang bayi telah demikian pandai? Bagaimanakah proses pemerolehan sebuah bahasa? Apakah ada perbedaan anak laki-laki dan perempuan dalam pemerolehan bahasa?

Beberapa ahli bahasa memiliki teori dan pandangannya tersendiri tentang bagaimana anak-anak memperoleh bahasa pertama mereka. Pertama kali yang harus dipahami bahwa pemerolehan bahasa berbeda dengan pembelajaran bahasa. Pemerolehan bahasa bersifat natural, informal dan alami, sangat terkait dengan model berbahasa yang diperankan oleh orang-orang signifikan yang mengasuh dan sehari-hari merawat sang bayi, oleh sebab itu disebut sebagai pemerolehan bahasa. Bahasa diperoleh langsung dari sang ‘ibu’ yang mengasuh dan merawat. Siapa pun, ‘ibu’ tersebut, sedangkan pembelajaran bersifat formal dan dilakukan secara sistematis serta mengikut-sertakan pengajaran tata-bahasa.

Selain membedakan pemerolehan bahasa dengan pembelajaran bahasa, juga terdapat perdebatan lain diantara para ahli bahasa, yakni apakah bahasa diperoleh disebabkan karena manusia dalam hal ini bayi manusia telah memiliki potensi untuk berbahasa? Sebagaimana teori yang diyakni Noam Chomsky (1957) yang disebut sebagai LAD, Language Acquisition Device, atau Piranti Pemerolehan Bahasa (PBB) (Dardowioyo, S., 2014) yakni bahwa setiap manusia mernpunyai apa yang dinamakan falcuties of the mind, yakni semacam teritori intelektual dalam pikiran (minda) atau otak mereka dan salah satunya merupakan teritori untuk pemakaian dan pemerolehan bahasa. Seorang bayi atau anak yang normal akan memperoleh bahasa sang ibu dalam waktu singkat. Hai ini bukan karena anak memperoleh rangsangan saja, lalu si anak mengadakan respon, tetapi karena setiap anak yang lahir telah dilengkapi dengan seperangkat peralatan pemerolehan bahasa tersebut, yang memungkinkan dirinya memperoleh bahasa. Teori ini berupaya mengkritisi dan memberi nilai tambah teori behaviorist yang meyakini bahwa pemerolehan bahasa semata-mata disebabkan oleh paparan bahasa dari sang ibu dalam proses pengasuhan dan perawatan.

Selain teori LAD tersebut, Aitchison (1987) memiliki keyakinan bahwa bahasa memiliki jadwal biologis yang terjadwal, (language has a biologicall organized schedule). Anak dari berbagai budaya mengikuti pola yang sama, dari mulai menangis yang merupakan latihan bagi paru dan latihan vocal hingga tahapan labeling yakni tahap pertama mengaitkan antara suara dari kata-kata tertentu dan obyek yang menjadi referent (Mmam..mama: dikaitkan dengan referent Ibunya). Kemudian disusul tahap Packaging, yakni keseluruhan pemahaman dari makna, hingga yang terakhir adalah network building yang meliputi mengaitkan antar kata hingga memahami bahwa beberapa kata memiliki makna yang berlawanan. Menurut Aitchinson tidak ada waktu yang pasti terkait pentahapan ini, masing-masing anak memiliki kecepatannya sendiri, ada anak yang memiliki kecepatan lebih jika dibandingkan dengan anak-anak yang lain, ia meyakini bahwa kecepatan pemerolehan bahasa dipengaruhi dua faktor sekaligus, kemampuan yang bersifat innate dan pengaruh lingkungan.

Bagaimana dengan perbedaan jenis kelamin? Apakah anak laki-laki dan perempuan memiliki piranti pemerolehan bahasa yang berbeda serta pentahapan atau jadwal biologis yang berbeda? Beberapa ahli berpendapat bahwa perbedaan pemerolehan bahasa antara anak laki-laki dan perempuan disebabkan karena perbedaan komposisi otak. Menurut Chaer (2003) otak perempuan lebih kaya akan neuron dibandingkan dengan otak laki-laki, jadi semakin banyak jumlah neuron di suatu daerah, semakin kuat fungsi otak di sana. Oleh karena itu, kesan cerewet yang ada pada perempuan adalah bagian dari kemampuan verbal yang tinggi. [1]

Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya jumlah neuron pada otak kiri perempuan pada daerah verbal

Menurut Steinberg, dkk. kuantitas ragam kosakata bahasa Indonesia yang dikuasai anak perempuan lebih besar daripada anak laki-laki. Hal ini disebabkan adanya perbedaan antara otak laki-laki dengan otak perempuan dalam hal bentuknya, yakni, hemisfer kiri pada otak perempuan lebih tebal daripada hemisfer kanan. Santrock juga menjelaskan bahwa anak perempuan lebih unggul dalam beberapa area verbal seperti kemampuan menemukan sinonim kata-kata dan memori verbal sedangkan anak laki-laki melebihi anak perempuan dalam kemampuan kuantitatif dan visual spasial.[2] Menurut Hurlock (1997;209) dibandingkan dengan anak perempuan, dalam perkembangannya anak laki-laki lebih lambat dalam belajar berbicara. Selain itu, kalimat anak laki-laki lebih pendek dan kosakata yang diucapkan lebih sedikit daripada anak perempuan. Selama proses penelitian anak perempuan lebih dominan dalam hal berbicara dan berbahasa. Saat bermain pun anak perempuan lebih banyak mengungkapkan perasaannya dibandingkan dengan anak laki-laki. Keadaan yang seperti inilah yang menyebabkan kelas bahasa umumnya didominasi oleh perempuan. Dari penjelasan teori-teori tersebut dapat dirumuskan sebuah dugaan bahwa dalam perkembangannya anak perempuan lebih mudah menguasai bahasa dibandingkan dengan anak laki-laki. Termasuk dalam penguasaan kosakata, kuantitas ragam kosakata bahasa Indonesia anak perempuan usia prasekolah lebih banyak dari pada anak laki-laki.

Berdasarkan beberapa teori dan pendapat para ahli bahasa tersebut, maka tulisan saya akan membahas dua hasil penelitian tentang perbedaan gender dalam pemerolehan bahasa pada anak, dan berupaya mengulasnya dengan menggunakan teori pemerolehan bahasa anak dan pengaruh perbedaan gender dalam pemerolehan bahasa anak. Kedua penelitian tersebut adalah: “Penguasaan Kosa kata Bahasa Indonesia pada Anak Usia Pra Sekolah, karya Rahmawati,D ; H.S. Sunaryo & H.S. Widodo (2011) dan Perbedaan Perkembangan Morfologis Anak Laki-laki dan Perempuan Usia 3-5 Tahun PAUD Rindu Satria, karya Sigit Purnomo, dkk (2013).

DATA PENELITIAN DAN ULASAN

Perolehan data dari penelitian pertama adalah sebagai berikut:

Tabel.1. Data Penelitian 1

Nama

Jenis Kelamin

Usia (th)

N

V

Adj

Adv

Pro

Pre

Kon

Num

Int

Jumlah

Mi

P

5

53

33

9

8

4

3

3

4

0

117

DW

P

4

30

21

2

3

5

1

3

3

0

68

SA

P

6

77

25

14

8

9

1

2

9

1

146

FA

P

6

69

31

12

6

8

1

3

3

2

135

DT

P

5

71

30

8

12

9

2

5

1

2

140

RERATA P

60

28

9

7.4

7

1.6

3.2

4

1

AY

L

6

48

47

4

9

11

4

3

7

2

135

AR

L

6

36

30

5

7

8

2

2

4

1

95

EK

L

4

18

14

1

4

5

3

1

0

4

50

AB

L

4

19

9

1

1

1

1

0

0

0

32

AR

L

5

25

20

5

3

1

2

1

1

0

58

RERATA L

29

24

3.2

4.8

5.2

2.4

1.4

2.4

1.4

Tabel 2. Selisih rerata

N

V

Adj

Adv

Pro

Pre

Kon

Num

Int

Jumlah

30.8

4

5.8

2.6

1.8

-1

1.8

1.6

-0.4

47.2

Keterangan:

N: Nomina; V: Verba; Adj: Adjectiva ; Pro: Pronomina, Kon: Konjungsi, Num: Numeralia: Int: interjeksi

Berdasarkan data di atas terlihat bawa rerata kuantitas pemerolehan bahasa anak-anak perempuan lebih tinggi jika dibandingkan dengan rerata kuantitas pemerolehan bahasa anak laki-laki. Kelas kata yang secara kuantitas lebih banyak adalah, nomina dengan selisih 30,8 point, Verba 4 point, Adjectiva 5,8 point, Adverbia 2,6 point, pronomina 1,8 point, konjungsi 1.8 point, numeralia 1,6 poin. Sehingga berdasarkan penelitian ini, anak-anak dengan jenis kelamin perempuan memiliki kuantitas pemerolehan kata dengan kelas-kelas kata tersebut diatas lebih tinggi daripada kuantitas pemerolehan bahasa anak laki-laki.

Hasil yang hampir sama juga didapatkan pada penelitian kedua.

Tabel.3. Data Penelitian 2

Subjek

L/P

Usia

(th)

Kelas Kata

Jumlah

Penelitian

Kb

(N)

Ks

(Adj)

Kk

(V)

Kket

(Adv)

Kg

(Pro)

Kkh

NA

P

4

9

4

2

1

16

SY

P

3

9

2

1

2

14

RERATA P

9

2

2

0.5

0.5

1

15

EZ

L

4

7

3

1

1

12

BA

L

4

8

2

1

1

2

14

RERATA L

7.5

2.5

1

1

0

1

13

Tabel 4. Selisih Rerata

N

Adj

V

Adv

Pro

kata khusus

1.5

0

1

-0.5

0.5

-1

Meskipun perbedaan kuantitas pemerolehan bahasa tidak terlalu kentara antara anak perempuan dan anak laki-lakai pada penelitian kedua ini, namun demikian kecenderungan bahwa anak perempuan memiliki kuantitas pemerolehan bahasa yang lebih banyak daripada anak laki-laki, telah terlihat. Dari data tersebut terlihat bahwa perbedaan atau selisih rerata pemerolehan bahasa anak perempuan dibandingkan dengan kuantitas pemerolehan bahasa anak laki-laki terlihat pada pemerolehan kata benda (N) selisih 1,5 point, kata kerja (V) selisih 1 point, pronomina (Pro) selisih 1 point.

Dari kedua penelitian tersebut, terlihat bahwa data tersebut diatas memiliki kecenderungan untuk mendukung para ahli yang menyatakan bahwa jenis kelamin memiliki peranan penting dalam pemerolehan bahasa. Anak-anak perempuan dan anak laki-laki memproses stimulus dari lingkungan secara berbeda disebabkan karena keadaan neurobiology yang berbeda pula. Sebaliknya lingkungan juga memberikan stimulus yang berbeda pada anak-anak perempuan dan anak laki-laki, sehingga memberikan pengalaman yang berbeda.

Hasil dari penelitian ini mengonfirmasi teori-teori para ahli perkembangan bahasa yang menyimpulkan hal-hal dibawah ini:

  • Anak perempuan mengembangkan keterampilan berbahasa lebih dahulu dari pada anak laki-laki

  • Anak perempuan mengalami perubahan kognitif yang diakibatkan karena pemerolehan bahasa pada usia 14 hingga 20 bulan, sementara anak laki-laki mengalaminya pada usia yang lebih lambat yakni 20-24 bulan[3]

  • Anak-anak Perempuan Menggunakan Bagian Otak yang Berbeda dengan Anak Laki-laki dalam Pemrosesan Bahasa.

  • Dalam tes yang terkontrol, hasil MRi pada saat scan otak pada anak perempuan memperlihatkan bahwa mereka menggunakan cara berpikir abstrak dan area bahasa dengan sangat aktif ketika memproses bahasa baik secara verbal maupun visual. SEdangkan anak laki-laki menunjukkan meningkatnya aktivitas di area visual saat melihat huruf dan area auditori saat mendengar huruf. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa anak perempuan menggunakan area otak lebih banyak daripada anak laki-laki terkait dengan stimulus bahasa. Hal ini tidak terjadi pada anak laki-laki, akurasi dari performance bahasa mereka tergantung pada sejauh area visual dalam otak bekerja pada saat mereka membaca kata, dan sejauh mara area mendengar (auditori) bekerja keras saat mereka membaca kata[4]

KESIMPULAN

Berdasarkan analisis terhadap dua penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa jenis kelamin memiliki peran penting dalam kuantitas pemerolehan bahasa. Anak perempuan secara kuantitas pemerolehan bahasa cenderung lebih banyak daripada anak perempuan. Hal ini terjadi disebabkan karena interaksi antara keadaan neurobiologist (nature) otak laki-laki dan perempuan yang melakukan proses pada area yang berbeda dan cara yang berbeda diantara keduanya, dengan keadaaan sosial/lingkungan yang memang secara budaya membedakan perlakuan terhadap laki-laki dan wanita, sehingga mempengaruhi kuantitas pemerolehan bahasanya.

DAFTAR PUSTAKA

Boys’ and Girls’ Brain are Different: Gender Differences in language Appear Biological .2002 (Berita) http://www.sciencedaily.com/releases/2008/ 03/ 080303 120346.htm

Chaer,A. 2003. Psikolinguistik Kajian Teoretik, PT Rineka Cipta. Jakarta.

Hoff,E.2009.LanguageDevelopment.Fourth Edition. Belmont: Wadsworth

Hurlock,E,B (1978) Perkembangan Anak. Erlangga,. Jakarta.

Kira.K; Smith, A.K , 2002 ‘Pathway to Language’. Harvard University Press

Purnomo,S. dkk (2013) Perbedaan Perkembangan Morfologis Anak Laki-laki dan Perempuan Usia 3-

5 Tahun PAUD Rindu Satria (tidak dipublikasikan). UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta

Rahmawati,D.(2012) Penguasaan Kosa Kata Bahasa Indonesia Pada Anak Usia Pra Sekolah. Jurnal-online.um.ac.id/data/…/artikelA120356373818369FAC90E334DBAD45D

Warastuti,D.R (2011) Gender Differences in Children Language Acquisition and Language Development. Jurnal Musawa, Vol. 3, No. 2, Desember 2011: 221-234


[1] Abdul Chaer, Psikolinguistik Kajian Teoretik, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2003), h. 134.

[2] Elizabeth B Hurlock, Perkembangan Anak,(Jakarta: Erlangga, 1978), h. 335.

[3] Karmiloff, Kira;Karmiloff Smith,Annete. Pathway to Language, (Harvard University Press, 2002).

[4] Boys’ and Girls’ Brain are Different: Gender Differences in language Appear Biological .[ News] http://www.sciencedaily.com/releases/2008/ 03/ 080303 120346.htm. (January 23,2012)

By: Intan Savitri

Kategori artikel: Kabar Tulisen
Kutipan
In porta enim non dolor posuere ut rhoncus leo tincidunt. Cras eget hendrerit est. Aliquam laoreet sodales egestas. Proin neque mauris, semper non sagittis eu, faucibus hendrerit est.
Menu style
Color style